Semalam pulang dari kantor ba’da maghrib, sunter-cakung mendung disertai rintik hujan sesekali… sampai di bekasi jalanan basah dan banyak genangan di beberapa tempat menandakan habis turun hujan yang cukup lebat hingga menyebabkan kemacetan yang lumayan, untunglah pake motor jadi masih bisa selap-selip di sana-sini.
Pas sampai di daerah Kaliabang deket perumahan Pesona Anggrek, ada kemacetan yang nggak biasa yang ternyata disebabkan banjir setinggi lutut orang dewasa, mau nggak mau akupun memilih memutar untuk menggunakan jalur alternatif lewat Pondok Ungu yang selama ini nggak pernah aku lewati karena harus memutar rada jauh.
Ketika sudah setengah perjalanan di jalur alternatif itu, tiba-tiba si Grandy jalannya nge-geol-geol karena terkena ranjau paku… duh mana udah malam hampir jam 20.00, untungnya nggak jauh dari situ ada tukang tambal ban jadi aku nggak harus terlalu lama mendorong si Grandy, awalnya ada perasaan kesal karena harusnya sudah sampai rumah, udah bisa makan malam…eh…ini malah masih ngantri di tukang tambal.
Sempet su’udzon juga sama si tukang tambal karena yang kena paku bukan aku saja, tapi lama-kelamaan sambil merenung… aku malah mendapat kesimpulan baru yang amat menenangkan hati, yaitu mungkin inilah cara Allah dalam membagi rezeki pada hamba-hamba-NYA.. aku yang nggak pernah lewat jalan situ tiba-tiba terpaksa harus melaluinya dan ternyata itu adalah jalan bagi si tukang tambal untuk memperoleh rizkinya... terlepas dari siapa yang menebar paku-paku itu di jalanan, yang penting aku nggak boleh su’udzon lagi.
Terima kasih Ya Allah… aku dapat satu pelajaran lagi tadi malam.
foto : benda yang semalam merobek ban, terbuat dari rangka payung yang digunting biar runcing