Always Starting Your Day With Smile....

Om's posts with tag: adat bugis

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag adat bugis
Blog EntrySatu Windu yang lalu…Nov 21, '07 8:09 PM
for everyone
Tak terasa pagi ini… 8 tahun yang lalu...

  

  

Terima kasih istriku, kasih sayangmu pada suami sungguh amat mengagumkan...

Semoga Allah memberkahi dan meridhoi kita semua… Ammiinn...

 

 

 

*maaf gak bisa nulis banyak, lagi speechless liat pengabdian istri tadi pagi*


ddd
dThumbnaild
ddd
Sabtu dan minggu 11-12 Agustus 2007 di rumah mertua ada sedikit kesibukan, dikarenakan akan ada selametan peluncuran Kapal yang sekaligus menjadi Bagan penangkap ikan, ini merupakan usaha baru dari mertua setelah usahanya yang terdahulu diakhiri karena selain faktor usia juga karena banyak pertimbangan lainnya.

Minggu pagi dengan berbekal berbagai macam aneka makanan kitapun menuju lokasi di mana kapal tersebut lego jangkar, nah untuk menuju ke sana kita harus menaiki perahu tempel yang ukurannya lumayan kecil dan bikin deg-degan menaikinya karena kalo kena ombak langsung goyang-goyang, mana zahra sama riza pada ikutan lagi…….

Acara berlangsung sukses di tengah laut, setelah pembacaan doa langsung dilanjutkan dengan makan bersama diiringi ombak yang berayun serta angin laut yang lumayan kencang, banyak juga para ibu-ibu yang nggak terbiasa merasakan perutnya jadi mual-mual, tapi zahra & riza malah kesenengan main di kapal yang bergoyang-goyang…..

Semoga usaha baru ini membawa hasil yang lebih baik……Ammiinnnn……

Blog Entry[Budaya] Hampir batal nikah……..Jun 26, '07 10:38 PM
for everyone

Seperti yang pernah aku ceritakan di jurnal-jurnal sebelumnya, aku dan bunda memang berasal dari dua keluarga yang berbeda suku, aku dari Jawa Tengah dan bunda dari Bugis Bone, ini pula yang membuat perjalanan cinta kami rada berat karena seperti diketahui di keluarga Bugis sampai saat ini masih berlaku perjodohan antar keluarga.

 

Makanya sebuah kejutan besar ketika aku mendapat kabar bahwa keluarga bunda memberi “lampu hijau” atas hubungan kami, dengan diundangnya orang tuaku untuk bersilaturahim dengan keluarga bunda, betapa bahagianya aku dan juga kedua orang tuaku karena bukan hanya aku yang tak ingin kehilangan bunda tapi juga kedua orang tuaku yang tadinya sempat pesimis akan bisa mendapatkan bunda sebagai menantu…

 

Hari yang dinantipun tiba…sehabis maghrib aku dan kedua orang tuaku segera meluncur ke rumah bunda, berjuta perasaan berkecamuk di hati kami bertiga, karena kami sama sekali nggak tahu apa yang akan terjadi, apalagi bunda sempet bercerita kalau bapaknya itu terkenal kegalakannya sampe-sampe hampir semua orang nggak akan berani menatap wajahnya apabila sedang berbicara dengannya….

 

Singkat cerita akhirnya bertemulah kedua keluarga ini, aku dan kedua orang tuaku di terima oleh kedua orang tuanya bunda dan salah satu tantenya, awalnya rada kaku juga suasananya meskipun sedikit mencair lama-kelamaan, tapi ada yang aneh selama pertemuan itu… yaitu saat duduk di sofa kedua kaki orang tua dan tantenya bunda itu semua naik ke bangku…..

 

Dan ternyata ini pula yang menjadi perhatian kedua orang tuaku, hingga Almh. Mama sempet ngomong, “kayanya kita tadi ditolak deh ko…liat aja semua kakinya pada naik gitu…khan nggak sopan… masa ada tamu -calon besan lagi- kakinya pada nangkring semua… L” sejujurnya aku juga merasa demikian, tapi melihat suasana pertemuan tadi yang penuh keakraban kok rasanya nggak mungkin akan ada penolakan…-pede berat-

 

Akhirnya aku konfirmasi ke bunda dan o…la…la…. jawaban bunda cukup mengejutkan kami, karena ternyata kalau di adat keluarganya mengangkat kaki saat menerima tamu adalah bentuk penerimaan dan penghormatan yang tinggi terhadap sang tamu, juga sebagai pertanda bahwa sang tuan rumah sangat bahagia didatangi sang tamu… upps …hampir saja kami salah kira…..

 

Dan kamipun akhirnya berhasil mempersatukan kedua keluarga besar ini dengan pernikahan kami…malah kedua orang tua kami justru saling akrab dan saling perhatian satu sama lain…sesuatu yang dulu tak pernah terpikirkan dan terbayangkan oleh kami berdua……….

 

Alhamdulillah………….


Blog EntryAkad Nikah dalam Adat Bugis…Oct 9, '06 11:02 PM
for everyone

Ini lanjutan dari cerita tentang Malam Tudanpeni atau malam menjelang akad nikah dalam adat bugis, sebenarnya dalam aturan adatnya apabila selesai acara tudanpeni, maka kedua calon mempelai dilarang tidur sama sekali karena katanya kalau sampai ada yang ketiduran maka jodohnya nggak akan lama, dulu aku juga sempat diwanti-wanti tentang hal ini, tapi nggak aku jalanin karena menurutku umur, jodoh, rezeki dan taqdir sudah diatur Alloh SWT.

 

Balik ke acara akad nikahnya, sebenarnya nggak terlalu berbeda dengan acara akad nikah yang lainnya, hanya saja dari awal acara hingga saat pengucapan Ijab Kabul, mempelai wanitanya tidak dihadirkan di luar melainkan mengikuti prosesi tersebut dari dalam kamar dengan ditemani oleh sepasang suami istri yang menjadi salah satu sesepuh adat.

 

Barulah setelah prosesi pengucapan Ijab Kabul selesai, maka mempelai pria-nya diantar menuju kamar untuk menjemput mempelai wanita-nya yang sudah menunggu… eiittsss tapi jangan salah nggak akan mudah untuk membawa mempelai wanita keluar untuk duduk di pelaminan, ada satu rintangan lagi yang harus dihadapi mempelai pria yaitu harus berjuang untuk membuka/mendorong pintu kamar tersebut.

 

Inilah acara adat yang paling seru, dimana di dalam kamar sudah menunggu minimal empat orang tante yang masih kerabat dari mempelai wanita yang akan menahan pintu kamar agar tidak mudah terbuka begitu saja saat dorongan dari luar datang, sementara di luar mempelai pria akan berusaha mendorong pintu itu sekuat-kuatnya dengan dibantu beberapa orang agar segera terbuka, ada yg bantuin gedor-gedor, ada yang teriak-teriak juga hingga keadaannya nyaris rusuh…..

 

Kuncinya satu sebenarnya, para tante yang di dalam itu meminta uang buka pintu pada mempelai pria dengan jumlah tertentu (syarat aja) setelah beberapa kali disodorin uang pasti yang di dalam akan teriak kurang…kurang… hingga akhirnya mereka mau membukakan pintu itu (kalo jaman aku, tak kerjain dikit…begitu aku sodorin uang dan mereka lengah langsung aku dorong hingga pintu terbuka…hehehehe….cuma kena 15.000 …padahal ada yang sampe 50.000 belum kebuka juga pintunya….)

 

Setelah acara yang nyaris rusuh itu berakhir, maka acara selanjutnya adalah menyentuhkan tangan mempelai pria ke tangan mempelai wanita sebagai pertanda bahwa mereka sudah resmi menjadi suami istri yang akan dipandu oleh sesepuh suami istri yang menemani mempelai wanita itu tadi.

 

Kelar semuanya barulah mempelai pria membawa mempelai wanita untuk duduk di pelaminan dan selesailah acara akad nikahnya……

 

*TAMMAT*


Setelah Proses Mappatudada a.k.a. lamaran maka proses selanjutnya adalah malam Tudanpeni yang diadakan pada malam sebelum akad nikah dilaksanakan esok harinya, prosesi kali ini sama-sama diadakan di dua rumah calon pengantin baik pihak pria maupun pihak wanita, acara utamanya adalah mengkhatamkan Al-Qur’an (simbolis) dan memakaikan pacar ke telapak tangan dan dahi calon pengantin, sebelum acara utama tersebut si calon juga terlebih dahulu dibersihkan seluruh badan dan dibedaki (mungkin kalo di adat jawa semacam acara luluran), mungkin maknanya agar bersih jasmani dan rohani dalam memasuki gerbang pernikahan.

 

Ada juga acara rebutan telur (matang) yang dihias hingga menyerupai buah-buahan, telur-telur ini biasanya digantungkan di pohon pisang yang diletakkan dalam rumah, begitu acara khataman dan pemakaian pacar selesai maka hadirin yang hadir ramai-ramai menyerbu pohon pisang itu untuk memperebutkan telur-telur yang bergelantungan itu, ramai dan serru pokoknya, mereka rela sikut-sikutan dan dorong-dorongan demi mendapatkan telur tersebut.

 

Acara terakhir adalah jual bedak, artinya begini sisa bedak yang digunakan tadi untuk bedakan dan luluran sang calon mempelai wanita itu kemudian dibawa ke rumah calon mempelai pria untuk kemudian dipakaikan juga kepada dia, dan pulangnya bedak tersebut ditukar dengan biasanya permen dan sabun, entah maknanya apa….

 

Selesai semua prosesi di atas, tinggal mempersiapkan diri untuk acara Akad Nikahnya …

 

*to be continued*

 

 

 

 

 


Blog EntryMappatudada a.k.a. Lamaran dalam Adat BugisAug 2, '06 10:00 PM
for everyone

Hari Rabu, 02 Agustus 2006 jam 13.00 WIB (gue ngabur dari office)….keluarga dari bunda ngadain acara Mappatudada alias lamaran dalam adat bugis secara mertuaku memang asli dari sulawesi selatan aka bugis bone. Yang akan menikah kali ini adalah anak ketiga dari delapan bersaudara (bunda nomor 2), acaranya memang mendadak aku aja baru kemarin tahu, tapi memang begitulah seringkali acara lamaran dan nikahan itu diadain secara mendadak, mungkin karena dijodohin kali yah jadinya buru-buru biar calon pengantinnya nggak berubah fikiran lagi….

 

Adat bugis memang masih mengenal perjodohan sesama suku hingga saat ini, hanya beberapa orang dari luar suku bugis yang bisa sukses menyunting pasangan dari suku ini (dan gue termasuk salah satu di antaranya), saking kuatnya mereka memegang adat ini maka biasanya apabila ada anak yang beranjak dewasa si orang tua sudah mulai sibuk mencari calon pendamping hidup anaknya itu, kalo untuk anak cowok biasanya masih “sedikit” longgar dalam arti apabila dia punya calon istri dari luar suku tapi berkenan di hati maka biasanya lebih mudah untuk direstui tapi kalo untuk anak cewek jangan coba-coba deh…bisa panjang urusannya…..

 

Syukur Alhamdulillah mungkin memang sudah jodoh, aku berhasil menyunting Roslinda untuk jadi bunda dari anak-anakku, meski dengan perjuangan yang amat berat, dan kini saatnya adik iparku yang menjalani salah satu proses sebelum proses pernikahannya digelar awal September nanti…….

 

 

foto : 1. Uang Lamaran yang diantarkan ke rumah calon pengantin wanita….

           2. Deretan Kue (belum dibuka tudungnya)

           3. Serah terima uang lamaran



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.