Kemarin baca jurnalnya mbak wit yang ini, jadi miris banget, kok bisa-bisanya seorang suami yang udah hidup bertahun-tahun bersama istrinya, melewati suka dan duka bersama-sama tiba-tiba minta ijin untuk menikah lagi justru di saat istrinya membutuhkan dukungan moril dan kasih sayang dari suaminya……..padahal baru seminggu sang istri mengalami patah kaki dan tangannya, harusnya saat ini sang suami selalu ada di samping istrinya untuk saling menguatkan bukannya malah menusuk hati istrinya dengan pedang tertajam yang pernah ada di muka bumi ini……
Sungguh Demi Allah….bukannya aku bermaksud membanggakan ayahku, tapi perlakuan sang suami itu berbeda 180o dengan apa yang telah dilakukan ayahku terhadap mama, saat mama juga harus mengalami patah tulang di kaki yang mengakibatkan beliau tidak bisa berjalan lagi.
2,5 tahun lebih mama harus mengalami hari-hari yang terasa amat panjang buatnya, hanya bisa terkapar di tempat tidur atau harus menggunakan kursi roda bila hendak keluar dari kamar, lalu apa yang dilakukan ayah…???... dengan setianya dia selalu menemani mama sepanjang hari, memandikannya, menggantikan pakaiannya, membersihkan kotorannya, mendengarkan semua keluh kesah dan juga “omelan” mama, mengantarkan mama berobat tiap bulan ke rumah sakit dengan harapan suatu saat mama akan kembali bisa berjalan, dan juga rela menggantikan tugas mama untuk memasak…, malah saat ini masakan ayah sudah lebih enak dari masakan mama sendiri.........
Akhirnya harapan kami harus pupus, di saat mama hampir kembali bisa berjalan dengan normal tanpa bantuan kursi roda lagi, ternyata Allah berkehendak memanggil mama, aku tahu betapa terpukulnya perasaan ayah saat mama pergi, sering kali aku memergoki beliau sedang menangis sendiri, dan bahkan sampai saat ini sudah 5 bulan semenjak mama pergi, ayah masih rutin setiap minggu dua kali ziarah ke makam mama dan kalo sudah di makam, bisa 1 jam lebih dia duduk di sana untuk mendoakan mama…..
Ayah benar-benar telah memberikan pelajaran terbaik buatku, bagaimana mencintai dengan segenap perasaan, bagaimana menghargai setiap detik kebersamaannya bersama mama, aku harus banyak belajar dari beliau………
Ayah.......terima kasih atas cintamu…………
*ditulis dalam linangan air mata bahagia sekaligus terharu dan bangga pada Ayah....*