Kali ini aku ingin bercerita sedikit tentang bapak mertuaku, bukan dengan maksud apa-apa apalagi pamer atau riya,melainkan siapa tahu ada pelajaran yang bisa kita ambil dari seorang lelaki asal Bugis Sulawesi Selatan ini.
Beliau bernama Anas biasa dipanggil orang Haji Anas atau bapak aji oleh para cucu-cucunya, perawakannya tidak begitu besar tapi dari wajahnya kita bisa tahu bahwa beliau telah melewati perjalanan hidup yang begitu keras sejak masa mudanya, beliau merantau ke Jakarta dan setibanya di Jakarta cobaan besar langsung menyapanya, tas berisi pakaian dan bekal yang dia bawa dari Makassar hilang dibawa bajingan Tg. Priok hingga yang tersisa hanya yang melekat di badan.
Untuk menyambung hidupnya dia bekerja sebagai kuli angkut kayu di Pelabuhan Sunda Kelapa, daerah yang memang banyak sekali saudara-saudaranya sesama bugis mencari nafkah, karena ketekunannya kemudian dia bisa memiliki sebuah kapal pencari ikan dan mulai beralih profesi sebagai nelayan, singkat cerita sukseslah dia hingga pada suatu saat dia sampai pernah memiliki 22 kapal besar pencari ikan.
Namun ternyata banyak saudara-saudaranya yang tidak memiliki daya juang sebesar beliau, banyak yang berbuat curang dengan menipu beliau hingga satu persatu kapalnya harus berkurang, baik karena dilaporkan tenggelam padahal dijual sama yang bawa, ada yang bilang dirampok, terbakar di tengah laut dan sebagainya hingga akhirnya hanya tersisa 2 kapal saja, dan dia sama sekali nggak pernah marah sama orang-orang yang sudah menipunya bahkan banyak diantara mereka yang kembali ditampungnya saat mereka sudah kehabisan harta hasil dari menipunya itu.
Kini sedikit demi sedikit dia mulai membangun kembali usahanya, dibantu oleh anak-anaknya yang mulai tumbuh dewasa, meskipun saat menuju ke sana masih banyak cobaan-cobaan yang ditimbulkan dari keculasan orang-orang di sekitarnya namun dia selalu tersenyum menghadapi itu semua.
Kebaikan beliau kadang diluar nalar anak-anaknya, kadang sampai nggak bisa dicerna oleh akal pikiran yang sehat, bayangkan saja saat Tg. Priok sedang kekeringan air akibat PAM mati total, dengan gampangnya dia membagi-bagikan air simpanan di bak besarnya pada semua tetangga yang lewat dan semua tetangga dipanggil, bahkan sampai untuk keluarga sendiri saja kehabisan dan kesusahan tetap saja dia tersenyum sementara anak-anaknya pada teriak nggak bisa mandi.
Suatu saat pas kita lagi ngobrol pernah ditanyakan kenapa beliau sampai sebegitu baiknya sama orang, sampai kadang dikerjain/ditipu orang yang masih saudara sendiri tapi nggak pernah marah, orang berhutang nggak bayar-bayar juga nggak marah malah lebih sering mbantuin saudaranya melunasi hutang, jawaban beliau amat sederhana : “yah karena beginilah bapak… mungkin Allah menjadikan bapak sebagai penyalur rezeki buat orang-orang itu, perkara dia mau nipu atau ngerjain bapak itu urusan dia sama yang di atas, yang penting tugas saya selesai, buktinya biar sering dikerjain atau ditipu saudara, apa pernah kita kekurangan makan, sesusah apapun kita tetap bisa makan enak, tapi lihat yang ngerjain bapak….apa pernah hidup mereka senang... yang ada mereka malah tambah susah…”
Begitulah bapak mertuaku, kalau pas dia sedang banyak rezeki banyak pula saudara yang ikut menikmatinya… tapi kalau dia sedang jatuh banyak pula yang menjauhinya, tapi dia tak pernah merasa susah dengan keadaannya, ikhlas menjalani hidupnya, ikhlas menjalani takdirnya, semoga Allah menganugrahkan kebahagiaan baik di dunia ini maupun di sisi-MU kelak…Ammiinn…..
Bapak… I Proud of you…