Om's posts with tag: cerita
Kebiasaan zahra itu kalau dikasih uang pegangan untuk jajan di sekolah, amat jarang sekali digunakan untuk membeli jajanan yang berupa makanan/minuman, lebih sering uangnya itu dibelanjakan kertas-kertas file dengan motif yang beraneka warna dan rupanya, ada yang bermotif gambar kartun atau yang full colour, biasanya dia membeli dengan harga Rp.1,000/5 lembar. Hari minggu kemarin zahra kedatangan para teman-temannya yang mengajak bermain bersama di rumah, setiap hari ahad zahra dan teman-temannya itu memang biasa bermain berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, kebetulan (mungkin) kemarin adalah jatahnya main di rumah zahra. Entah bagaimana ceritanya, saat selesai bermain dan teman-temannya sudah pada pulang zahra memamerkan uang pecahan seribu rupiah sebanyak 5 lembar, dan terjadilah percakapan dengan bunda : Zahra : lihat nih bunda… zahra dapet uang Rp.5,000…. Bunda : dapet dari mana kak…???... Zahra : zahra tadi jualan kertas file bunda, abis teman-teman tadi pada suka… Bunda : jualnya berapa kak...???... nanti gak bisa beli lagi lho... Zahra : tenang bunda... kalo di sekolah khan zahra belinya seribu dapet 5 lembar... Zahra : tadi zahra jual seribu 2 lembar... jadi zahra untung khan bunda… Bunda : waaaa.......untung gede dong kak..... Zahra : besok mau zahra beliin kertas file lagi, trus dijual lagi deh.... Bunda : J Hehehehe... jadi inget masa kecilku yang pernah jualan permen, mudah-mudahan ini langkah kecil zahra yang akan menjadi sebuah langkah besar untuk kelak jadi seorang pengusaha...amiinnn...
Hari ahad kemarin memang benar-benar merupakan hari yang paling pas untuk OR beristirahat, setelah aktivitas yang padat dan berat selama 1,5 bulan lebih nonstop (sabtu/ahad/libur tetap ngantor) akhirnya ada juga kesempatan untuk sekedar meluruskan badan dan menarik nafas sejenak. Di awali pagi setelah subuh, hujan rintik-rintik yang turun sejak semalam bertambah besar membasahi bumi, membuat OR kembali menarik selimut dan meringkuk di kehangatan orang yang sangat dicintainya….. J Bangun-bangun sudah jam 09.00 pagi, hujan masih saja turun bikin malas untuk beranjak dari tempat tidur, tahu suaminya ini sudah bangun… bunda langsung membawakan segelas teh hangat dan sepiring jagung manis yang dipadukan dengan keju dan susu, nikmatttttt….. Kelar sarapan (tanpa mandi) OR langsung menuju lapangan di belakang rumah karena kebetulan sedang ada lomba perkutut se-jabodetabek, duduk di bawah pohon sambil menikmati kicauan burung yang konon harga telurnya saja ada yang mencapai Rp. 50 juta… ckckckck… kalo punya uang segitu mah daripada buat beli telur mending juga buat naik haji dah. Pulang pas dhuhur… mandi, sholat, makan siang trus tidur lagiiiiiiii… hmmm hari yang sempurna… :D
Setiap bulan seperti biasa saat mendekati tanggal 10… OR selalu menunaikan kewajiban untuk membayar cicilan rumah yang saat ini ditempati, berat memang tapi mau gimana lagi… daripada diusir kalo nggak dibayar…hehehehe… Hitung punya hitung… ternyata OR sudah membayar sebanyak 72 kali angsuran dari yang diwajibkan sebanyak 120 kali, berarti kewajiban yang belum dijalani adalah sebanyak 48 kali alias masih 4 (empat) tahun lagi, masih lama yah ternyata masa kebebasan itu. Semoga ke depan akan ada rezeki yang tak terduga agar OR bisa langsung melunasi rumahnya tanpa harus menunggu 4 (empat) tahun lagi… SEMANGATTT!!!!...
Masih ingetkan sama ceritaku yang Nimbun Keramik, saat kemarin nimbun sebenarnya aku nggak tahu kapan bisa dipasang itu keramik karena intinya yang penting bisa kebeli dulu sebelum harganya naik gara-gara BBM. Tapi lama kelamaan ini mata sepet juga liat tumpukan dus-dus keramik yang cukup menyita tempat... rumah udah kecil tambah terasa sempit jadinya, sampai akhirnya saat akhir bulan di mana seperti biasa rekening OR terisi, rada kaget juga liat nominal yang tertera di layar I-Net Banking BCA… kok kayanya bisa disisihkan sedikit untuk manggil tukang buat pasang itu keramik, malah bisa sekalian juga untuk ganti cat depan dan pagar yang sudah mulai lusuh termakan cuaca. Dan akhirnya setelah kurang lebih 1 minggu dikerjain tukang, rumah OR-pun kembali tampil segar dan semakin siap menyambut kehadiran Ceu Mumun, Alhamdulillah… hikmahnya Proyek Sangkuriang, nggak percuma deh setiap hari pulang malam… hehehehe…
Setelah jurnal aku yang ini, sempat ada harapan besar kalau aku bakalan bisa segera mewujudkan impian untuk bisa meminang ceu mumun namun apa daya ternyata aku masih harus memanjangkan impianku dan masih harus berusaha keras mewujudkannya. Jadi ceritanya secara tiba-tiba kantor mengadakan undian untuk karyawannya untuk bisa memiliki mobil ex-operasional/ex-trial dengan harga yang hanya ½ (setengah) dari harga pasaran dan dengan kredit tanpa bunga, dan salah satu jenis yang ditawarkan adalah Ceu Mumun. Besarnya harapan karena aku mengira inilah mungkin saatnya impian itu jadi kenyataan, pancinganku mengena dan ceu mumun bisa segera hadir di tengah-tengah keluarga dan menambah keceriaan kami. Namun apa daya... saat hasil pengundian tahap pertama diumumkan, namaku nggak tercantum dalam daftar karyawan yang berhak mengikuti pengundian tahap kedua, dengan kata lain aku gagal dan Ceu Mumun pun lepas dari genggaman, rada sedih juga karena acara-acara seperti ini nggak setiap tahun adanya. Sabar aja deh...mungkin mau dikasih yang jauh lebih bagus lagi... Amiinnn..... SEMANGATTTTTT!!!!!!!!......
Saat bikin kanopi kemarin sebenarnya masih ada pekerjaan yang tertinggal, yaitu mengganti keramik teras dan memasang keramik baru untuk carport, pekerjaan ini terpaksa ditunda karena kehabisan dana…hehehe… Dan ditengah-tengah berita akan naiknya harga BBM awal juni mendatang, timbul sedikit kekhawatiran kalau harga keramik akan naik drastis dan sepertinya memang itu yang akan terjadi, nggak ada momentum BBM aja harga bahan bangunan tiap hari naik apalagi kalau BBM naik… bisa lumayan banyak selisihnya. Akhirnya setelah diskusi dengan menteri keuangan, maka diputuskanlah untuk segera membeli keramik, meskipun belum tahu pasti kapan itu akan bisa dipasang yang penting beli aja dulu untuk menghindari kenaikan harga akibat BBM, walau untuk itu terpaksa harus menggunakan anggaran cadangan rumah tangga. hmmm…sesekali jadi penimbun gak pa..pa..kali yah…hehehehehe…..
Seperti ceritaku kemarin saat ini aku tengah terlibat dalam sebuah project “Mission Impossible”, yang mau nggak mau bikin waktuku harus lebih banyak dihabiskan di kantor, mulai dari setiap hari yang biasanya sebelum maghrib aku sudah tiba di rumah, kini sampe Isya pun kadang aku masih ada di kantor, berkutat dengan segambreng kerjaan yang nggak ada putus-putusnya. Otomatis waktuku untuk bersama dua kurcaci kecilku itu berkurang drastis, karena sekarang aku baru tiba di rumah setelah jam 21.00, ditambah lagi juga wajib masuk di hari sabtu dan ahad, meskipun ada kompensasi yang besar tapi tetap saja ada yang terasa hilang dalam hidupku. Akhirnya gelombang protespun datang dari dua kurcaci, pertama zahra yang selalu bertanya kenapa aku selalu pulang malam setiap hari, juga riza yang sudah mulai bisa protes… meskipun protesnya karena merasa nggak ada lagi yang nemenin dia nonton tivi , “onton jojo ikus/iti mos ayah…” (nonton Jojo’s Circus/Mickey Mouse ayah) kata Riza. Untunglah hari ahad kemarin aku bisa libur, dan kebetulan juga rekening sudah terisi maka jadilah seharian itu aku manfaatkan semaksimal mungkin untuk bermain bersama-sama mereka, mulai dari muter-muter cari sarapan di pagi hari, makan siang di salah satu Mall Bekasi (deket rumah ortunya mama haura), muter-muter lagi di sore hari cari jajanan, sampai guling-gulingan di kamar sambil gebuk-gebukan bantal…. Duh senang banget bisa seharian penuh nemenin mereka…semoga mereka nggak protes lagi kalo besok-besok ayahnya pulang malam lagi…..hehehehe….
Salah satu kelemahan yang sangat kusadari adalah…”Lupa Nama Orang” yang udah lama nggak ketemu. Kelemahan ini sudah aku rasakan sejak masih kuliah dulu, seringkali aku gagal mengingat nama orang yang sudah lama nggak aku temui meskipun aku masih sangat hafal wajahnya, namun biasanya aku selalu mengabaikan kelemahanku ini karena toh biasanya nggak lama kemudian dengan berbagai cara dan trik aku berhasil mengenalinya lagi. Sebenarnya sudah lama kelemahan ini nggak muncul aku pikir sudah hilang nggak bakalan kumat lagi, tapi tiba-tiba jum’at kemarin kelemahan ini muncul lagi saat aku harus mengikuti Musyawarah Unit Kerja (MUSNIK) SPSI di kantorku, di mana pesertanya adalah para utusan karyawan dari semua divisi yang ada. Dan di situ aku mendapati banyak wajah yang sangat familiar denganku tapi dengan nama yang sama sekali blank di kepalaku, aku nggak mengenali nama mereka… sampai kadang jadi malu karena mereka justru memanggil atau menyebut namaku terlebih dahulu yang menandakan bahwa mereka tidak melupakan namaku. Untunglah di acara itu diwajibkan memakai tanda pengenal peserta yang bertuliskan nama, hingga kalau aku bertemu dengan seseorang yang sangat kukenal tapi aku lupa namanya… tinggal melirik sedikit ke arah papan namanya….aman deh….. Maafkan kelemahanku ini yah.....hehehehehe…
Gara-gara dendeng Om Tian, jadi keingetan sama satu episode antara aku dan Almh. Mama... Ceritanya bermula waktu aku mengikuti ospek saat hendak memasuki sebuah perguruan tinggi tak ternama di jakarta, salah satu tugas untuk dibawa pada hari kedua itu adalah dendeng goreng berukuran 4 x 6. Paginya dengan dibantu mama, aku menyiapkan berbagai macam benda ajaib yang harus dibawa, salah satunya yah dendeng itu... tiba-tiba kudengar mama setengah berteriak : “yah.... dendengnya menciut.....” ketika kutengok terlihat bahwa dendeng yang semalam sudah dipotong-potong mama seukuran 4 x 6 itu menciut setelah digoreng... “waaaaaa...salah nih ko...harusnya digoreng dulu baru dipotong... gimana nih..?.” akupun bingung harus gimana karena saat itu sudah langsung terbayang beratnya hukuman yang harus kuterima karena bawaannya salah. “aha...!!!...mama punya ide...tenang aja ko…sebentar juga beres nih…” seru mama tiba-tiba memecah kebuntuan pikiranku saat itu, kulihat mama ke ruang tengah dan entah apa yang dilakukannya di sana aku tidak begitu memperhatikannya lagi karena langsung sibuk menyiapkan bawaan yang lainnya. “ini ko....udah selesai....” kata mama sambil menyodorkan 3 potong dendeng yang sekarang sudah pas berukuran 4 x 6, dan apa yang dilakukan mama pagi itu sungguh sangat diluar dugaanku...karena ternyata beliau “MENJAHIT” potongan-potongan kecil dendeng tersebut menjadi satu hingga ukurannya jadi pas sesuai permintaan... Dan akhirnya hari itu aku lolos dari hukuman.... Makasih Mama...... foto : Dendeng dagangan Om Tian yang yummi.......:D
Sudah beberapa bulan ini kami dipusingkan oleh bocornya bak di kamar mandi, sudah beberapa kali aku mencoba menambalnya baik dengan semen, oker pengisi nat sampai aquaproof-pun dicoba tapi hasilnya nggak ada yang memuaskan, sampai-sampai sempet putus semangat nggak pake bak mandi lagi diganti dengan drum plastik. Tapi hari minggu kemarin selepas subuh aku lihat bunda udah sibuk di kamar mandi, aku pikir dia lagi sibuk merendam baju atau mencuci baju/celana yang kena ompolnya riza tapi ternyata dia sedang sibuk menambal bak kamar mandi dengan menggunakan semen putih. Dan hasilnya…???... LUAR BIASA!!!!!... itu bak langsung nggak bocor-bocor lagi, duh nggak sangka si bunda selain pinter masak juga pinter nyemen....huehehehehe.... Duh jadi malu deh kita...... foto : bak mandi yang udah nggak bocor lagi...
Semalam saat kita melakoni kebiasaan baru (bersantai malam-malam di teras depan) sambil menikmati kolak pisang buatan bunda, aku cerita sama bunda kalau Pak “Y” yang rekan kerja di toyota sekaligus tetangga satu cluster mengajukan resign karena ditawari jadi Direktur di salah satu perusahaan supplier. Salah satu yang mendasari kepindahannya adalah sudah mentoknya jenjang karir di mana beliau tidak akan mungkin bisa promosi jadi Manager karena ijazahnya hanya D3…L meskipun dari segi pengalaman tak akan ada yang meragukan kepiawaiannya. Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan di sini, melainkan salah pahamnya zahra atas status D3, jadi dipikiran zahra D3 itu adalah apabila sudah punya anak 3!!! (kebetulan Pak Y anaknya 3), mungkin dia salah nguping waktu denger pembicaraan aku dan bunda hihihihi… Jadi pas aku selesai bercerita, tiba-tiba zahra bicara gini, “ayah…berarti ayah bisa dong jadi direktur di toyota, khan anak ayah baru 2 belum 3…kalau begitu ayah sama bunda jangan sampai punya anak lagi…biar ayah bisa jadi direktur” Ammiinnnnnnnnn……… (ayah dan bunda kompak) huehehehehe..... foto : zahra dan calon direktur...... J
Semenjak ada kanopi di rumah, kita jadi punya kebiasaan baru yaitu duduk-duduk malam-malam di teras depan, padahal dulu biasanya kalo udah maghrib yah kita nggak pernah keluar lagi paling saat aku mengantar jemput zahra mengaji, selebihnya lebih banyak kita habiskan waktu di kamar sambil becanda-becanda atau menyaksikan dua kurcaci “Live Show” Ini gara-garanya tukang yang kemarin mbangun kanopi itu bikin beberapa bangku (baik jengkok maupun bangku panjang) dari sisa-sisa kayu, jadi kalo pas kita nongkrong di depan nggak duduk di teras lagi melainkan di bangku panjang, biasanya sambil duduk-duduk kita juga sambil menikmati beberapa cemilan sambil juga ngeliatin dua kurcaci lari-larian di carport. Rasanya nggak ada yang bisa ngalahin nikmatnya bisa bercengkrama bersama keluarga… mau ikutan nongkrong…???... mumpung ada kolek pisang buatan bunda nih…..:D maaf fotonya burem…zahra motonya buru-buru soale mo berangkat ngaji...
Tak terasa 5 tahun sudah kami menempati rumah sendiri, belajar mengarungi kerasnya hidup tanpa didampingi orang tua… sebisa mungkin menghadapi semua persoalan yang timbul dengan kekuatan dan cara kami sendiri. Saat zahra masih kecil, masalah kendaraan tak pernah jadi masalah buat kami…pun hingga saat ini saat zahra sudah besar dan rizapun sudah mulai bikin motor penuh sesak, hanya terkadang kalau harus pergi agak jauh ataupun saat pulang kampung ke priok yang sebulan sekali itu, barulah terasa kalau ternyata kita sudah membutuhkan kendaraan yang lebih layak agar terasa nyaman di perjalanan. Menimbang-nimbang…rasanya masih berat kalau harus membeli mobil saat sekarang, di mana cicilan rumah belum selesai dan beberapa cicilan lain yang selalu menghantui tiap bulannya, tapi Insya Allah kami nggak pernah putus semangat untuk selalu berusaha menggapai impian itu. Salah satunya adalah menyediakan dulu prasarana yang dibutuhkan untuk itu, misalnya lap mobil udah punya, kanebo untuk pas nyuci udah ada bahkan tempat sampah kecilpun udah tersedia…hehehe…tapi ternyata ada satu persyaratan yang belum kami punya, yaitu kanopi untuk menutup carport biar nanti bila penghuninya udah ada nggak kehujanan dan kepanasan. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat kanopi tersebut sekaligus sebagai pancingan siapa tahu kalau udah ada kanopi-nya tiba-tiba “makblejug!!!...” isinya datang juga, analoginya diambil secara semena-mena dari pendapat yang bilang kalo yang belum punya anak khan ngangkat anak dulu buat mancing, siapa tahu kejadian khan…hehehehe…. Dan siapa tahu juga yang dipancing Ceu Mumun eh…. yang datang malah Jeng Novi… apapun itu akan selalu disyukuri… Alhamdulillah... *postingan iseng nggak jelas disaat pusing mikirin biaya bikin kanopi yang jauh diluar perkiraan*
Semalam pulang dari kantor ba’da maghrib, sunter-cakung mendung disertai rintik hujan sesekali… sampai di bekasi jalanan basah dan banyak genangan di beberapa tempat menandakan habis turun hujan yang cukup lebat hingga menyebabkan kemacetan yang lumayan, untunglah pake motor jadi masih bisa selap-selip di sana-sini. Pas sampai di daerah Kaliabang deket perumahan Pesona Anggrek, ada kemacetan yang nggak biasa yang ternyata disebabkan banjir setinggi lutut orang dewasa, mau nggak mau akupun memilih memutar untuk menggunakan jalur alternatif lewat Pondok Ungu yang selama ini nggak pernah aku lewati karena harus memutar rada jauh. Ketika sudah setengah perjalanan di jalur alternatif itu, tiba-tiba si Grandy jalannya nge-geol-geol karena terkena ranjau paku… duh mana udah malam hampir jam 20.00, untungnya nggak jauh dari situ ada tukang tambal ban jadi aku nggak harus terlalu lama mendorong si Grandy, awalnya ada perasaan kesal karena harusnya sudah sampai rumah, udah bisa makan malam…eh…ini malah masih ngantri di tukang tambal. Sempet su’udzon juga sama si tukang tambal karena yang kena paku bukan aku saja, tapi lama-kelamaan sambil merenung… aku malah mendapat kesimpulan baru yang amat menenangkan hati, yaitu mungkin inilah cara Allah dalam membagi rezeki pada hamba-hamba-NYA.. aku yang nggak pernah lewat jalan situ tiba-tiba terpaksa harus melaluinya dan ternyata itu adalah jalan bagi si tukang tambal untuk memperoleh rizkinya... terlepas dari siapa yang menebar paku-paku itu di jalanan, yang penting aku nggak boleh su’udzon lagi. Terima kasih Ya Allah… aku dapat satu pelajaran lagi tadi malam. foto : benda yang semalam merobek ban, terbuat dari rangka payung yang digunting biar runcing
Semalam kami sempat dikejutkan dengan hilangnya gelang bunda yang dipakai saat menghadiri pertemuan arisan di rumah tetangga… Arisan antar tetangga yang kami adakan memang rada unik, karena biasanya kalau arisan maka yang bulan ini mendapatkan giliran maka dia akan “ketempatan” penyelenggaraan arisan bulan berikutnya, tapi arisan kami tidak… lebih sering diadakan di jalanan depan rumah di tengah-tengah gang kami dan yang membuat semua makanannya adalah salah satu tetangga kami yang memang membuka usaha catering kecil-kecilan. Karena itulah setiap kali selesai acara maka biasanya para ibu-ibu bergotong royong ikut membereskan semua perabotan yang dipakai termasuk mencucinya beramai-ramai, malam itu kebetulan bunda memakai gelangnya… entah kenapa dia yang biasanya paling malas memakai perhiasan tapi malam itu jadi ingin memakai gelangnya. Dan kabar itupun datang…sepulang bunda dari tempat arisan itu dia sedikit panik mendapati gelangnya tak lagi melingkar di pergelangan tangannya, sudah setiap sudut rumah di cari nggak ketemu juga, sampai dia kemudian kembali lagi ke rumah tetangga tadi dan mencarinya di sana dengan dibantu beberapa tetangga sementara aku dibantu zahra meneruskan mencari di rumah. Akhirnya setelah berusaha mencari beberapa saat akhirnya kita menyerah, mungkin sudah bukan rezeki kami dan dari raut wajahnya aku melihat bunda juga sudah pasrah, kami ikhlas…mungkin ada orang yang lebih membutuhkannya dan mungkin kami akan dapat ganti yang lebih baik lagi…amiinn….. Dan haripun berganti… kami memulainya dengan biasa seolah tanpa ada peristiwa apa-apa, aku seperti biasa jam 05.45 sudah berangkat kantor dan bundapun sekelar subuh sudah sibuk menyiapkan perlengkapan sekolah zahra… Jam 08.30 HP-ku berdering... --bunda yang menelpon-- dan dia mengabarkan kalau gelangnya sudah ditemukan, penemunya adalah salah seorang satpam di cluster kami yang seperti biasa tengah melakukan patroli keliling untuk memastikan kondisi keamanan pagi hari sebelum tukar shift, dan ternyata gelang tersebut jatuh di tengah jalan yang menurut satpam sangat mudah terlihat, apalagi saat hari sudah terang... yang untungnya para pemulung belum diizinkan masuk cluster. Alhamdulillah… ternyata memang masih rezekinya bunda….. gambar minjem dari om google…..
Ini cerita lama yang belum sempat diupload karena keburu zahra & riza masuk RS lagi… Minggu lalu dari tanggal 07 ~ 09 January 2008 anak kami Riza di rawat di RSIA Hermina Bekasi karena terserang ISPA, meskipun hanya 3 hari dirawat, tapi sungguh menjadi hari-hari yang panjang buat kami sekeluarga, hari-hari yang amat menyita perhatian, menguras stamina serta fikiran. Namun di sela-sela kegalauan hati kami itu zahra selalu tampil sebagai penawar duka, salah satunya adalah celotehnya tentang asal muasal nama “Hermina”, jadi menurut zahra asal kata “Hermina” adalah : (ditulis ulang sebisa mungkin mirip celotehan anak kelas 2 SD) Dulu itu ada anak perempuan namanya Mina, dia itu sekolahnya malas sering bolos, jarang ngerjain PR, suka berantem sama teman dan lain-lain, jadi pas ujian nilainya jelek semua dan si mina harus HER buat mbagusin nilainya…. Pas sampai rumah ditanya sama bapaknya…”mina gimana hasil ulangan kamu…???...” trus sambil gemeteran si mina kasih nilai ulangan ke bapaknya…. Dan sambil berteriak bapaknya bilang gini, “APA!!!! Jadi kamu kena HER MINA!!!!!!” akhirnya sejak saat itu si mina jadi rajin belajar dan pas gede bisa bikin rumah sakit dan untuk mengingat peristiwa itu jadi rumah sakitnya dikasih nama RS HERMINA....... Saat mendengar cerita ngarang zahra itu.... asli hati kami jadi terhibur... makasih yah zahra udah bikin ayah sama bunda tersenyum di tengah kegalauan, keletihan dan kebingungan menghadapi sakitnya dede riza.......
Sambungan dari sini Malam sabtu zahra mulai menginap di RS, aku dan adik iparku yang menjaga dia sementara bunda pulang untuk menemani riza, sekitar jam 3 pagi aku terima telpon bunda yang mengabarkan riza kembali panas tinggi bahkan suhunya sampai hampir 40o C, duh.. pikiranku jadi makin kalut. Sabtu (19 Jan 2008) paginya aku langsung pulang ke rumah untuk kemudian membawa riza ke RS, setelah di test darah hasilnya lebih baik dari zahra hanya saja karena sesak napas dan panas tingginya itu maka kami memutuskan riza untuk dirawat saja agar perhatian kami (terutama bunda) nggak terpecah antara zahra dan riza, jadilah pagi itu zahra dan riza sama-sama di rawat di RS Islam Sukapura Jakarta Utara, di kamar yang sama…bersebelahan… Dan dimulailah hari-hari yang amat melelahkan kami dengan dua anak yang tergeletak di bed perawatan dengan infusan yang tertancap pada tangan mereka… sungguh membuat hati kami miris dan tak jarang ada butiran-butiran bening yang meluncur di wajah kami karena nggak tega menyaksikan penderitaan mereka, ditambah lagi selama 3 hari perawatan tidak ada perkembangan yang menggembirakan sama sekali bahkan kondisi keduanya makin mengkhawatirkan hingga akhirnya dokter memutuskan untuk mengganti obat-obatan yang diberikan dengan yang lebih canggih lagi, istilahnya dokter “ini penyakitnya Bintang 5 nggak bisa dikasih obat Kaki 5” kamipun segera meminta dokter untuk segera mengganti obat-obatan yang diberikan. Setelah ganti obat barulah terjadi perkembangan yang menggembirakan, hari selasa zahra sudah bisa “pup” yang kemudian diikuti dengan suhu tubuhnya yang menjadi stabil, hingga pas hari rabunya dokter membolehkan zahra pulang namun karena melihat kondisi riza maka dokter memperbolehkan zahra untuk istirahat satu hari lagi agar bisa pulang bareng riza di hari kamisnya. Kamis (24 Jan 2008) pagi kami yakin banget kalo hari ini bisa pulang dari RS, kondisi zahra makin membaik dan riza juga stabil suhu tubuhnya, dan memang saat dokter datang dan memeriksa kondisi keduanya memutuskan zahra & riza bisa pulang, Alhamdulillah... akupun segera meminta surat istirahat untuk sekolah zahra, surat control dan lain-lain, sekelar itu akupun bersiap pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikan segala urusan agar kedua anakku bisa pulang. Tapi saat aku kembali ke kamar untuk mengambil sandal, tiba-tiba bunda terlihat panik dia memegang kening riza yang katanya tiba-tiba panas lagi dan saat dicek suhunya kamipun lemas kembali, suhu riza kembali tinggi hingga batallah kepulangan kami bahkan kali ini riza harus dipasangkan oksigen untuk membantu pernapasannya yang sesak, kamipun meminta izin untuk tetap menginapkan zahra semalam lagi karena takut kalo dipulangkan tak ada yang bisa mengawasinya di rumah, para perawatpun mengizinkan dengan syarat besok meskipun riza belum boleh pulang zahra harus tetap dipulangkan karena khawatir tertular penyakit lainnya. Jum’at (25 Jan 2008) kondisi riza sejak semalam semakin membaik selang oksigennya sudah dilepas karena sejak semalam napasnya sudah normal, suhunya stabil di kisaran 36o C, dan saat dokter memeriksa paginya, akan dilihat sampai sore jika suhunya tetap stabil maka riza diperbolehkan pulang, dan Alhamdulillah sampai sore itu kondisi riza semakin membaik hingga kami memutuskan untuk membawanya pulang meskipun masih diliputi perasaan was-was, tapi Bismillah saja semoga kamis kemarin itu adalah serangan terakhir dari penyakit riza. Maka pulanglah kami di hari jum’at sore itu dan minggu paginya kembali ke rumah di bekasi dan Alhamdulillah sampai aku menulis ini (senin 28 Jan 2008) kondisi riza sudah semakin membaik, zahra hari ini sudah mulai sekolah lagi meskipun dengan pengawasan ketat gurunya agar tidak terlalu capek dulu. Alhamdulillah… semoga zahra & riza akan kembali pulih seperti sedia kala dan semoga akan ada hikmah yang baik buat kami selepas ujian dan cobaan ini… Terima kasih pula kepada semua rekan-rekan (yang maaf tak bisa kami sebutkan satu-persatu) yang telah mendukung kami secara moral, doa-doa yang telah terpanjatkan sungguh amat berharga buat kami, sungguh telah menguatkan kami hingga bisa melewati ujian & cobaan ini, hanya Allah-lah yang bisa membalaskan kebaikan kalian semua… terima kasih sekali lagi….
Kami sama sekali nggak pernah menduga jika di awal tahun 2008 ini kami akan mengalami ujian dan cobaan yang cukup berat dan melelahkan, kedua anak kami zahra & riza harus menjalani rawat inap di rumah sakit secara bersamaan. Awal dari episode rumah sakit ini adalah saat riza harus masuk RSIA Hermina karena mengalami panas tinggi dan susah bernapas yang ternyata karena dia terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), tiga hari riza harus dirawat dari tanggal 7 ~ 9 January 2008, setelah dinyatakan sembuh maka riza bisa pulang hari rabu sore (09 Jan 2008) dengan wajib kontrol pada hari sabtunya (12 Jan 2008). Sesuai jadwal tersebut maka sabtu sore kamipun kembali ke RS untuk kontrol dokter, dan sampai pulang nggak ada permasalahan hanya saja saat mengambil obat kami harus menunggu cukup lama, minggu paginya kami dikejutkan dengan kembali panasnya riza dan karena ada obat-obatan dari dokter maka kami nggak membawanya ke RS, dan memang kemudian panasnya rada sedikit mereda. Selasa (15 Jan 2008), panas riza sudah menurun dan kamipun sedikit merasa lega, tapi malamnya tiba-tiba justru zahra yang mengalami panas tinggi, pertolongan dengan meminumkan obat andalannya tidak begitu berpengaruh hingga akhirnya rabu sore kami bawa zahra ke dokter di dekat rumah dan dinyatakan hanya terkena flu berat, biasanya kalo sudah dibawa ke dokter panas zahra akan segera membaik tapi kali ini semakin malam justru semakin meninggi hanya turun saat habis diminumkan obat dan kami makin dipusingkan lagi dengan riza yang jadi ikut-ikutan panas juga. Akhirnya kamis pagi kami memutuskan untuk evakuasi ke priok, agar kalaupun ada yang harus dirawat sudah banyak yang bisa membantu kami dan dengan pertimbangan lebih dekat orang tua jadi ada yang bisa dimintakan pendapatnya, sampai sore kondisi zahra sedikit membaik hanya saja pas malamnya aku merasa panas zahra sudah sangat tinggi, hingga aku memutuskan sepulang kantor nanti aku akan mencoba membawanya ke RS untuk di test darahnya karena kebetulan sudah pas 3 hari panasnya tidak mau turun. Jum’at (18 Jan 2009) sore kami sudah berada di ruang IGD RS Islam Sukapura untuk memeriksakan zahra dan hasilnya dinyatakan positif Typhus ditambah dengan dugaan Demam Berdarah, mau nggak mau malam itu juga zahra harus dirawat inap, sementara di rumah riza terus menangis karena ditinggal bundanya, jadi malam itu aku menunggu zahra di RS ditemani oleh salah satu adik iparku sementara bunda pulang ke rumah untuk menenangkan riza yang memang belum bisa ditinggal lama sama bundanya…. *bersambung ke SINI*
Minggu kemarin adalah minggu yang cukup melelahkan, ini dikarenakan aku harus membobok tembok di depan rumah untuk mengganti lubang kran air yang pecah karena terinjak petugas indovision yang terjatuh saat memasang parabola unit di atas atap, untung hanya lecet-lecet aja tuh si bapak, kalau cedera berat khan bisa bikin repot juga. Jadi pagi-pagi sekali aku sudah mulai membobok tembok untuk bisa memotong pipa paralon yang tertanam dalam tembok untuk kemudian mengganti water outlet yang menempel di pipa tersebut, untung aja pipa tersebut tidak tertanam terlalu dalam hingga sebentar saja pekerjaan membobok itu dapat segera terselesaikan. Setelah pipa dapat terpotong kemudian aku mengganti water outlet yang pecah itu dengan yang baru dan setelah itu kembali menyemen lubang bobokan yang tadi aku buat, meskipun jauh dari rapi tapi yah lumayanlah untuk kelas sangat pemula ini. Kelar urusan bobok-membobok, pekerjaan lain sudah menunggu yaitu membersihkan rumput yang sudah memenuhi pinggiran jalan dan got di depan rumah bikin rumah kok kayanya nggak terawat banget banyak rumput yang tumbuh di sana-sini. Akhirnya semua kerjaan itu selesai tepat saat adzan dhuhur berkumandang, meskipun capek dan keringat bercucuran kemana-mana tapi hati puas memandang hasil pekerjaan sendiri…Alhamdulillah… link to : Jadi tukang dadakan Part #1
Sejak kecil zahra memang sudah keliatan bakat-bakat kritisnya kalo nanya sesuatu pasti urutan dan detil sampe sekecil-kecilnya, walau kadang membuat kami kerepotan dalam meladeni setiap pertanyaannya tapi kami bersyukur dengan “kecerewetan” zahra itu. Tapi yang terjadi semalam agak berbeda, semalam zahra berani mengajak debat ayahnya sampai-sampai si ayah hampir saja kalah debat kalau tidak tertolong keadaan…hehehe… jadi semalam ceritanya kami sedang menonton Drama Seri Taiwan di DAAI-TV, kami sebenarnya sedang membatasi nonton TV, jadi nggak ada ceritanya di rumahku itu acara nonton sinetron atau infotaintment…semuanya di banned, yang boleh ditonton hanyalah acara berita, olahraga, traveling, bolang atau si unyil. Nah semalam saat kami sedang menikmati tayangan Drama Seri tersebut, tiba-tiba terjadi dialog antara zahra dan ayahnya : Zahra : ayah… katanya kita nggak boleh nonton sinetron…. Ayah : iya….memangnya kenapa kak…???... Zahra : lho…itu kok ayah nonton sinetron…???... Ayah : itu bukan sinetron za…itu mah drama seri…. *ngeles* Zahra : sama aja yah…itu juga sinetron cuma sinetron Taiwan… Ayah : coba peratiin kak…di sini nggak ada teriak-teriak, mata melotot, omongan kotor kaya di sinetron lokal. Zahra : itu karena kita nggak ngerti omongannya yah...cuma baca tulisan di bawah tipi... Zahra : tetap aja ada adegan marah-marah dan mukulin orangnya… Ayah : uppss....mati angin *gak bisa jawabnya* *untungnya di saat yang tepat ada adegan yang menggambarkan suasana sekolah* Ayah : liat itu kak… di sini anak sekolahnya pada sopan-sopan khan, bajunya rapih dimasukkin, rambutnya pendek dan tersisir, hormat dan sopan sama guru…beda khan sama sinetron sini yang anak sekolah pada nggak jelas bajunya, merokok di sekolah, rambut diwarnain, melawan guru dan lain-lain. Zahra : hmm…hmm… trus itu adegan marah-marahnya khan sama…???... Ayah : adegan marah-marahnya juga nggak sampai berteriak-teriak sambil matanya melotot kaya di sinetron sini, iya khan….. *di atas angin* Ayah : trus jalan ceritanya juga jelas, nggak nyambung-nyambung kemana-mana… Ayah : jadi beda banget kan sama sinetron di sini…. Zahra : ya udah ayah buruan yah pasang Indovision-nya biar zahra nontonnya Baby TV aja sama dede riza….. Ayah : *halah* ternyata buntutnya nagih Indovision……. Selama percakapan itu bunda cuma senyum-senyum aja liat kelakuan anaknya dan tetep bisa nonton, sementara si ayah terpaksa ketinggalan sedikit jalan cerita… Duh jadi pasang Indovision gak yah…???.......
| |