Om's posts with tag: mama
Gara-gara dendeng Om Tian, jadi keingetan sama satu episode antara aku dan Almh. Mama... Ceritanya bermula waktu aku mengikuti ospek saat hendak memasuki sebuah perguruan tinggi tak ternama di jakarta, salah satu tugas untuk dibawa pada hari kedua itu adalah dendeng goreng berukuran 4 x 6. Paginya dengan dibantu mama, aku menyiapkan berbagai macam benda ajaib yang harus dibawa, salah satunya yah dendeng itu... tiba-tiba kudengar mama setengah berteriak : “yah.... dendengnya menciut.....” ketika kutengok terlihat bahwa dendeng yang semalam sudah dipotong-potong mama seukuran 4 x 6 itu menciut setelah digoreng... “waaaaaa...salah nih ko...harusnya digoreng dulu baru dipotong... gimana nih..?.” akupun bingung harus gimana karena saat itu sudah langsung terbayang beratnya hukuman yang harus kuterima karena bawaannya salah. “aha...!!!...mama punya ide...tenang aja ko…sebentar juga beres nih…” seru mama tiba-tiba memecah kebuntuan pikiranku saat itu, kulihat mama ke ruang tengah dan entah apa yang dilakukannya di sana aku tidak begitu memperhatikannya lagi karena langsung sibuk menyiapkan bawaan yang lainnya. “ini ko....udah selesai....” kata mama sambil menyodorkan 3 potong dendeng yang sekarang sudah pas berukuran 4 x 6, dan apa yang dilakukan mama pagi itu sungguh sangat diluar dugaanku...karena ternyata beliau “MENJAHIT” potongan-potongan kecil dendeng tersebut menjadi satu hingga ukurannya jadi pas sesuai permintaan... Dan akhirnya hari itu aku lolos dari hukuman.... Makasih Mama...... foto : Dendeng dagangan Om Tian yang yummi.......:D
Semalam pulang dari kantor sampai di rumah sudah jam 19.35, seperti biasa aku sudah dinanti oleh zahra dan riza, ada perbedaan cara menunggu antara zahra dan riza, kalau zahra menungguku sambil belajar atau menonton tv, sementara riza meskipun sambil bermain tapi dia seringkali menengok ke jendela atau ke pintu untuk melihat ayahnya sudah pulang atau belum. Tapi tadi malam ada yang lain dengan riza, (dari cerita bunda) riza seringkali bertanya “bunda…ayah udah sampe mana” dan bunda harus menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda setiap kali di tanya, misalnya pertama bilang “oh…ayah udah di cakung” nanti pas ditanya lagi “ayah udah di aqua…” terakhir biasanya “itu ayah udah nyampe pos satpam…” dan memang biasanya nggak lama kemudian aku tiba di rumah dan disambut dengan teriakan dua malaikat kecilku itu… ”AYAAAAAAAAAAAAHHHH……..”. Terus terang hal yang dilakukan riza itu pernah aku lakukan juga 30 tahun yang lalu, saat itu aku juga setiap malam saat ayah belum tiba di rumah selalu bertanya “ayah sudah sampai mana ma…???...” dan jawaban mamapun selalu berbeda-beda sesuai jalur pulang ayah, pernah suatu waktu pas aku bertanya dan jawaban mama mengatakan ayah masih jauh…eh tiba-tiba ayah sudah di depan pintu, mamapun ngeles bilang kalo ayah pulangnya terbang…. Hihihihihihi….si mama bisa aja…. dan tanpa diduga sejarah itu berulang pada riza... bikin aku jadi kangen sama mama. Mama….aku kangen pengen dipeluk mama lagi….hiks….. Robbighfirli Waliwalidayya Warkhamhuma kama Robbayani soghiro……..
“Jauh di lubuk hatiku… Masih terukir namamu... Jauh di dasar jiwaku... Engkau masih kekasihku...” Andai saja ayahku tahu lagunya NAFF ini, mungkin syair itulah yang hari ini dia lantunkan dalam hatinya, yah... hari ini adalah salah satu hari yang sangat bersejarah dalam hidupnya di mana 36 tahun yang lalu dia mengakhiri masa lajangnya dengan menyunting seorang gadis manis mungil yang kemudian dengan setia mendampingi hidupnya selama 34,5 tahun. Ayahku memang sangat membanggakan… begitu besar rasa cintanya pada mama, puluhan tahun hidup berumah tangga meski terus didera dengan persoalan berat yang tak kunjung usai (pun hingga saat ini) namun tak pernah bisa membuat ayahku berpaling ke lain hati, dari hari ke hari...bulan ke bulan...tahun ke tahun... cintanya pada mama terus tumbuh berkembang, berakar dan menghunjam kuat dalam dada hingga tak tergoyahkan oleh apapun jua.. Sepanjang kehidupan rumah tangga mereka... sungguh merupakan inspirasi terbesar buat hidup kami anak-anaknya, begitu banyak pelajaran yang dapat kami ambil dari mereka. Kasih sayang, cinta sejati, keteguhan, ketabahan, kesabaran dan banyak lagi yang bisa diteladani dari mereka... terima kasih Ya Allah... telah menjadikan mereka sebagai orang tua kami... Pagi ini hatiku gerimis, mendung tebal menggelayut di dada... seharusnya hari ini adalah milad pernikahan mereka yang ke-36.... Met Milad Ayah-Mama.... Meski kini Mama tak ada lagi... tapi cinta kalian sungguh amat mengharukan... “Tak bisa kutahan laju angin… Untuk semua kenangan yang berlalu… Menghembuskan sepi…merobek hati… Meski raga ini tak lagi milikmu... Namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup... Entah sampai kapan... Kutahankan rasa cinta ini...”
Seharusnya hari ini mama milad….. Seharusnya pagi ini aku mampir ke priok untuk cium tangan beliau… Seharusnya pagi ini aku bisa cium pipi beliau sampai puas… Seharusnya hari ini aku bahagia… Tapi… hari ini hanya nisanmu yang kutemui…. Hanya tanah dan rumput basah yang bisa aku sentuh... Hanya bunga yang bisa kutaburkan di pusaramu… Hanya doa-doa panjang yang terlantun untukmu… Mama...selamat “Milad”… Doaku untuk mama Insya Allah takkan terputus… Istirahat yang tenang dan damai dalam keridhoan-NYA…. Cinta kami untuk mama……  foto : tadi pagi di pusara mama…
Yah…semalam tiba-tiba air mataku meleleh tanpa bisa dicegah lagi…deras membanjiri pakaian dan sajadah yang terhampar di hadapanku…. Rabu malam menjelang kamis pagi setahun yang lalu... Saat aku kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku… Saat tiba-tiba sebuah sayapku patah tercerabut... Saat sebuah dering telepon di pagi buta menghancurkan seluruh hatiku... Saat aku tertunduk dan terduduk lesu kehilangan semua harapan..... 3.45 menjelang subuh... Mama pergi meninggalkanku yang masih haus akan kasih sayangnya..... Masih terbayang saat terakhir aku menemuinya.... Alhamdulillah.... Aku masih sempat memijat kakinya...... Aku masih sempat mencium tangannya... Aku masih sempat menyuapinya...... Aku masih sempat memandang sayu matanya..... Robbighfirlii....... Waliwalidayya..... Warkhamkhumaa.... Kama Robbayani shogiroo...  Siti Thoryati binti Dasir (27 November 1955 ~ 17 Agustus 2006)
Entah kenapa hari-hari terakhir ini aku sedang dilanda rasa kangen yang teramat sangat kuat pada Almh. Mama, untuk meredam rasa kangen itu aku sampai 2 kali menziarahi makam beliau di hari sabtu dan minggu pagi kemarin, dan juga aku sempatkan melihat foto-foto beliau yang terabadikan sepanjang hidupnya, mulai dari foto-foto lama yang banyak terdapat di album-album maupun foto-foto terakhir yang sempat terekam kamera digital yang tersimpan rapi dalam Harddisk..…
Ada satu foto yang membuatku tertegun cukup lama….di foto itu mama terlihat mencium Riza dengan penuh perasaaan, terlihat sekali mama sangat sayang dengan cucu keduanya itu, tentu saja karena setelah mendapat cucu perempuan maka sekarang dia mendapatkan cucu laki-laki…sudah lengkap beliau bilang……
Dan nggak disangka itu adalah Idul Fitri pertama buat Riza sekaligus menjadi Idul Fitri terakhir buat Mama……. Luv U Mom……… (mungkin kelak ini akan jadi unforgettable moment buat Riza)
Summa illa ruuhi “Siti Thoryati binti Dasir” Al-fatihah…..
Tahun lalu benar-benar jadi tahun penuh kesedihan buat keluarga besar kami, bagaimana tidak karena dalam kurun waktu hanya 6 (enam) bulan saja sudah tiga orang dari keluarga kami yang dipanggil Alloh, dan yang dipanggil adalah yang benar-benar dekat kekerabatannya dengan kami.
Yang pertama dipanggil adalah masih termasuk nenekku karena dia adalah istri dari adik nenekku, berpulang 17 February 2006 sore, padahal dari pagi hingga siangnya masih sempat ikut mbantuin ponakannya bikin kue untuk ulang tahun, eh sorenya udah nggak ada….
Yang kedua dan ini yang paling menyedihkan kami, tak lain dan tak bukan adalah mama kami sendiri yang berpulang ke Rahmatulloh, sesuatu yang sama sekali nggak pernah terlintas dalam hati bahwa mama akan meninggalkan kami secepat ini, tak pernah terduga dan tak pernah terpikirkan……I Luv u Mom……
Dan yang terakhir kabar duka itu kembali harus kami terima, Jum’at 1 September 2006 suami dari salah seorang adik mamaku beda nenek juga telah berpulang, itupun tanpa diduga karena nggak sakit sama sekali dan sedang sehat-sehatnya. Ajal jika memang sudah tiba waktunya tak akan bisa maju atau mundur meski sedetikpun.
Innalillahi Wainnailaihi Rojiun…….. kepada Allah-lah tempat kita kembali….
Sudah Dua hari ini anakku Riza demam, kemarin panasnya tinggi banget bahkan sempat menyentuh angka 40.2o C…untungnya nggak kejang-kejang, tadinya aku sudah mau nggak berangkat kantor tapi bunda melarang dan tetap menyuruhku pergi, ternyata siangnya panas Riza tetap nggak mau turun meski sudah diberi obat penurun panas, akhirnya bunda memutuskan untuk langsung membawa Riza ke dokter tanpa menunggu aku pulang.
Setelah sempat dirawat intensif di klinik dokter tersebut, akhirnya Riza diperbolehkan pulang setelah panasnya bisa turun dari level 40o C itu, dan menurut bunda seharian itu Riza rewel terus dan nggak mau tidur-tidur, hingga masakpun bunda nggak sempat lagi.
Malamnya Riza tetap rewel meski sudah digendong bergantian denganku, hingga tiba saatnya tidurpun dia masih nangis-nangis terus, bunda menyuruhku untuk tidur karena paginya aku harus tetap ngantor, di tengah malam aku sempat terbangun… dan saat itu aku melihat bunda masih terjaga di samping Riza yang mulai bisa tidur, dan baru tadi kelar sholat subuh bunda bisa memejamkan matanya sejenak. Jadi ternyata sepanjang malam bunda nggak tidur untuk menjaga anaknya yang sedang sakit…….
Aku jadi teringat… Almh. Mama pernah cerita, dulu waktu aku masih bayi pernah juga mengalami panas tinggi seperti Riza, malah saat itu mamaku hanya sendirian karena ayah bekerja sebagai pelaut, beliau juga cerita bagaimana dia diomelin orang banyak karena menerobos antrian panjang di sebuah klinik demi menyelamatkan nyawa anaknya ini, dan juga kena omelan dokter karena menurut dokter itu jika mama terlambat 5 menit saja maka sejarah hidupku akan berakhir sudah, dan beliau harus terjaga sampai pagi karena tiap setengah jam harus meminumkan aku obat, Alhamdulillah aku akhirnya sembuh…..
Dari cerita Almh. Mama dan melihat apa yang dilakukan bunda, aku jadi tahu betapa besar pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya, mereka rela begadang semalaman hanya untuk memastikan anak-anaknya tertidur dengan nyenyak, mereka rela menahan lapar demi melihat anaknya makan dengan lahap hingga menghabiskan potongan lauk untuknya, mereka rela jungkir balik “tangan jadi kaki dan kaki jadi tangan” demi kebahagiaan anak-anaknya.
Dan Almh. Mama pernah berkata : “andai saja kulit ini nggak sakit kalau dibeset, maka akan Mama berikan demi kebahagiaan kalian”…..
Pantaslah jika dikatakan Syurga ada di telapak kaki ibu, karena manalah mungkin kita meraih Syurga jika kita tidak menghormati ibu… Manalah mungkin kita berharap Syurga tanpa Ridho Allah, sementara Ridho Allah ada pada keridhoan kedua orang tua kita di mana kedudukan seorang Ibu tiga kali lebih tinggi dari Ayah……
Jadi masih adakah alasan untuk tidak menghormati IBU…???...
27 November…..biasanya menjadi hari yang selalu aku nanti-nantikan, bila hari itu tiba aku biasanya selalu menyempatkan diri mampir ke rumah orang tuaku, karena hari itu mamaku ber-ulang tahun…..
Biasanya… pada hari itu kupeluk tubuhnya, kucium tangannya, kucium kedua pipinya, seraya terlantun sebait do’a agar beliau selalu dalam Lindungan dan Curahan Rahmat, Kasih Sayang serta Karunia Allah….. sebait doa berharap akan kesehatannya dan berharap akan bertemu hari yang sama di tahun depan…..
Tapi tahun ini… aku tak lagi bisa memeluk tubuhnya, tak lagi dapat menyentuh tangannya, tak lagi bisa menciumi pipinya, kini hanya batu nisan-nya yang dapat ku pegang, kini hanya doa-doa yang bisa kupersembahkan untuknya, kini hanya kerinduan yang begitu membuncah di hati yang berujung pada bulir-bulir hangat air mata yang mengalir begitu deras tanpa bisa kutahan lagi……
I Miss U Mom………
Ya Alloh... Ya Robbi… Ya Rahman… Ya Rahiimm….
Terimalah mama di sisi-MU…
Terimalah segala amal dan ibadah mama…
Lipat gandakan semua pahala dan amal-amal kebaikan mama…
Hapuskanlah semua dosa-dosa dan kesalahan mama…
Terangkanlah kubur mama…
Luaskanlah, lapangkanlah kubur mama…
Jauhkanlah mama, hindarkanlah mama dari siksa kubur-MU…..
Istirahatkanlah mama dengan tenang Ya Alloh…..
Istirahatkanlah mama dengan tetap mendapatkan curahan Rahmat, Karunia serta Kasih Sayang-MU…..
Jadikanlah tiap tetes air susu mama yang telah kami minum, sebagai peninggi derajat mama di sisi-MU…
Jadikanlah tiap tetes keringat yang mama curahkan demi mengurus kami, sebagai hijab yang akan menghalangi api neraka menyentuh kulitnya….
Jadikanlah tiap tetes air mata yang mama cucurkan demi mengkhawatirkan kami, sebagai pelipat ganda pahala dan amal-amal kebaikannya…
Jadikanlah setiap lantunan do’a yang mama panjatkan untuk kebahagiaan kami, sebagai penghapus segala dosa-dosa dan kesalahan mama…
Jadikanlah setiap rasa letih mama semasa mengurus kami, sebagai pembuka pintu-pintu syurga…
Jadikanlah setiap rasa kantuk yang mama tahan demi menjaga kami dikala sakit, sebagai pengunci pintu-pintu neraka…
Jadikanlah setiap rasa sakit yang mama derita saat mengandung kami, sebagai peringan bebannya saat di padang mahsyar nanti…
Jadikanlah Ya Alloh….setiap erangan kesakitan mama sewaktu melahirkan kami, sebagai kendaraan secepat kedipan mata yang akan mama tumpangi saat melintasi Shirattal Mustaqim menuju Syurga-MU kelak…Amiiinnn….
Summa Ila Arwahi Siti Thoryati binti Dasir Al-Fatihah….
Bismillahir Rohmanir Rohim
Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin
Ar-Rahmannir Rahiim
Maaliki yaumiddiin
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
Ihdinash shiraathal mustaqiim
Shiraathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim wa ladh dhaaliin
Robbighfirli Waliwalidaya Warkhamhuma kamaa Robbayani Soghiro...
Robbighfirli Waliwalidaya Warkhamhuma kamaa Robbayani Soghiro...
Robbighfirli Waliwalidaya Warkhamhuma kamaa Robbayani Soghiro...
Amiinn….Amiinn…Ya Robbal Alamin……
*do’a yang tiba-tiba terlantun begitu saja saat selesai jum’atan, bikin air mata mengalir deras…..*
Hari ini mulai masuk kantor lagi, dan tadi sempet juga melayat ke rumah rekan kerja yang kemarin di hari pertama puasa telah meninggalkan kami semua, lumayan jauh juga rumah beliau dari kantor kami yang di Sunter, yaitu di Perumnas 1 Depok, jadi setengah hari ini kami habiskan di luar kantor, berita ini memang cukup mengagetkan kami, secara beliau selain masih amat muda baru 28 tahun usianya, juga tidak pernah mengeluh sakit apapun kecuali rasa pusing-pusing yang menyerangnya diminggu-minggu terakhir kehidupannya.
Hari ini juga bertepatan dengan 40 hari berpulangnya mama ke pangkuan Sang Khalik, sampai hari ini kami merasa sepertinya mama masih ada bersama kami, tetapi kami juga harus menyadari bahwa kenyataannya mama sudah tidak ada, kini kami hanya bisa mendoakan beliau agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Alloh SWT, Amiinnn… dan sehabis Ashar tadi siang di rumah mama diadakan kendurian 40 hari meninggalnya mama, meskipun aku kurang setuju dengan acara kenduri seperti itu tapi demi untuk menghormati ayahku akhirnya terlaksana juga acara tersebut, semoga Alloh mengampuni kami, Amiinn….
Robbighfirli….Waliwalidaya Warkhamhuma kamaa Robbayani Soghiro……
|  | Ini sebagian dari foto-foto yang sempat terabadikan di hari kepergian mama (17 Agustus 2006), mama pergi dengan tenang di iringi doa dan keikhlasan dari kami semua....... Selamat Jalan Ma..... Robbighfirli….Waliwalidayya….Warkhamhuma kama Robbayani soghiro…….. |
 Surat ini ditulis Zahra sambil menangis di samping jenazah mama (mbah utinya) isi suratnya seperti ini : *maaf ini tulisan anak baru lulus TK…jadinya agak berantakan…*
Uti jangan pergi, zahra malam gak bisa tidur…..
Uti jangan meninggal uti……
Zahra sebenernya zahra sayang uti……
Zahra dulu zahra cuma becanda uti…. (ket : zahra suka nakal sama mbah utinya)
Maafin Zahra Uti sekarang….. (ket : Maksudnya Sekarang Uti Maafin zahra yah)
Uti sebelum meninggal bilang, baca Alloh tiga kali uti…….
ZAHRA
UTI
SAYANG…..
(ket : Maksudnya dari ZAHRA buat UTI SAYANG……)
Itulah surat yang ditulis zahra, aku tahu zahra amat sayang sama utinya karena dia tahu utinya sangat sayang sekali sama dia, sabar yah zahra…doakan mbah uti agar mendapat tempat yang lebih baik di sisi Alloh…..Ammiinn….
*sebenernya zahra pesan supaya surat itu ditaruh di makam terkubur bersama mbah-nya tapi karena takut bid'ah dan mungkin menjadi ganjalan dalam perjalanan mama, makanya surat tersebut sengaja aku simpan dan mungkin akan jadi kenang-kenangan buat zahra saat dia besar nanti* 
 Sesaat sebelum Mama pergi, sebenarnya banyak pertanda yang ditampakkan, namun seperti biasa kita baru menyadari bahwa itu sebagai pertanda setelah semuanya terjadi, di antaranya adalah sebagai berikut :
- Satu bulan terakhir ini Riza cucu lelakinya selalu meleleh air matanya ketika melihat mama, namun hanya air matanya saja yang keluar tanpa tangisan atau rontaan, sampai-sampai mama pernah berkata dan bertanya pada kami semua : “kenapa sih riza kalo liat mbah keliatan sedih, apa karena mbah gak bisa jalan yah jadinya gak bisa gendong riza ?”…….. belakangan kita baru sadar bahwa itulah pertanda yang paling sering terjadi dan nampak karena selalu berulang apabila riza melihat wajah mama….Riza ternyata sudah tahu kalo mbah-nya akan pergi…
- Mama sedang menjahit baju pada penjahit langganannya, biasanya dia nggak pernah cerewet minta itu baju segera selesai tapi kali ini dia seringkali bilang sama si penjahit agar secepatnya menyelesaikan jahitan, dan kalimat yang diucapkannya selalu begini : “mbak nenti, bajunya buruan yah dijahitnya kalo kelamaan nanti saya keburu nggak sempat makenya”, dan akhirnya memang dia gak sempet pake baju itu karena memang belum kelar dijahit.
- Di rumah mama ada sebuah warung kecil yang dijaga bergantian dengan ayah, nah saat mama yang menjaga warung, setiap ada orang yang berbelanja selalu dia mintakan maaf atas segala salahnya, hingga banyak tetangga yang sama sekali gak menyangka bahwa itu adalah pertanda akan kepergiannya, rupanya mama ingin pergi dengan bersih tanpa punya kesalahan sama orang lain
- Menjelang 17-an biasanya pihak RT selalu memasang umbul-umbul di tiap-tiap rumah, umbul-umbulnya berwarna-warni dari hijau sampai pink-pun ada, tapi entah kenapa umbul-umbul yang terpasang di depan rumah mama adalah umbul-umbul berwarna KUNING !!!…….
Itulah sebagian pertanda/firasat yang nampak sebelum mama pergi, sayang kami nggak bisa memahaminya……
Foto : umbul-umbul kuning di depan warung mama….. 
Innalillahi Wainnailaihi Rojiun……..
17 Agustus 2006 pukul 3.45 pagi, Mama telah berpulang ke Rahmatulloh, mendadak dan sama sekali tak terduga oleh kami semua, beliau memang telah mengeluh sakit sejak hari Senin 14 Agustus dengan keluhan buang-buang air dan sedikit mual, hari senin malam aku masih sempat mengobrol lama di telepon dengan mama, biasanya aku kalo menelpon nggak pernah lama namun entah kenapa malam itu kami asyik ngobrol hingga tak terasa hampir satu jam aku menelponnya.
16 Agustus siang aku dapat kabar dari adikku, kalau mama bertambah parah sakit mual-nya, adikku memintaku untuk membelikan obat anti mual buat mama, jam 11.00 siang aku keluar kantor untuk membeli obat yang dimaksud dan langsung mengantarkannya ke rumah mama, di sana aku sempat ngobrol lama dengannya, sempat pula mijitin kakinya, sekitar jam 13.00 akupun kembali ke kantor….
Sekitar jam 15.00 sore, adikku menelpon mengabarkan bahwa mama dibawa ke rumah sakit karena mual-nya bertambah parah, kabar baik aku terima satu jam kemudian bahwa hasil cek lab mama semua dalam keadaan baik dan normal, hanya saja mama kekurangan elektrolit karena mual dan muntah-muntahnya, sehingga akhirnya mama diperbolehkan pulang ke rumah setelah menghabiskan sebotol infusan. Sepulang kantor aku langsung ke rumah mama, dan dia terlihat sehat sempat pula kami makan bubur ayam berempat, mama terlihat sehat saat itu.
Jam 20.00 aku pulang ke bekasi karena mama memintaku untuk segera pulang karena kuatir sama cucunya *ayahnya belum pulang*, sekitar jam 23.00 adikku menelpon ke rumah dan bilang bahwa mama harus dibawa ke RS lagi, karena kondisinya tiba-tiba drop, ayahku melarangku untuk kembali ke RS karena situasinya sudah malam, jadi kuputuskan besok pagi saja aku ke sana, tapi ternyata kondisi mama kian memburuk, hingga harus masuk ke ruang ICU, yang ternyata penuh hingga mengharuskan kami mencari ruang ICU kosong di RS-RS lain dan hasilnya hanya ada satu RS yang memiliki satu tempat di ruang ICU…*aku mencari via telepon dari rumah di bekasi*
Namun ternyata ayahku memutuskan untuk tidak membawa mama pindah RS karena beliau sudah merasa bahwa waktu mama sudah sampai, Jam 03.00 pagi dia menelponku mengabarkan bahwa mama dalam kondisi kritis, aku segera bersiap untuk pergi ke RS namun sebelum pergi bunda memintaku sholat tahajud untuk mohon petunjuk, kelar tahajud sebelum witir aku sempat berdoa yang intinya memohon kepada Alloh untuk memberi keputusan terbaik buat mama, jika mama bisa sehat kembali segeralah angkat penyakitnya namun jika mama harus kembali kehadirat-MU aku sudah ikhlas ya Alloh.
Akupun menyelesaikan tahajudku dengan witir, saat witir rakaat terakhir terdengarlah dering telepon “Kriiiiinnngggg!!!!” aku sudah pasrah…. dan tambah pasrah ketika bunda menjerit dan menghambur ke arahku yang saat itu sedang mengakhiri sholat witir dengan salam….bunda memelukku erat dan menangis, akupun ikut menangis karena menyesal tidak bisa melihat mama di saat terakhirnya…. bergegas kita segera meluncur ke rumah mama, sepanjang jalan bunda terus menangis…., untunglah aku bisa berkonsentrasi selama membawa motor di jalan yang masih teramat sepi itu.
Sampai rumah mama, bunda langsung memeluk mama yang sudah terbaring di ruang tamu, aku hanya bisa menahan air mata agar tak tumpah, setelah bunda aku pun segera memeluk mama dan melihat wajahnya yang tersenyum….damai sekali….. aku berusaha tegar dengan tidak terlihat menangis, jika sudah tak kuat menahan air mata aku segera masuk ke kamar dan menghabiskan tangisku dengan memeluk bantal yang biasa dipakai mama….
Namun pertahanankupun akhirnya jebol juga, ketika ustad yang akan memimpin prosesi penyolatan jenazah mama memintaku dan adikku untuk menyolatkan mama berdua di rumah sebelum disholatkan di masjid, aku jadi imam dan adikku makmum, saat itulah air mata yang selalu kutahan-tahan akhirnya tumpah juga, aku menyolatkan jenazah mama sambil menangis…..
Setelah proses penyolatan jenazah mama di masjid selesai, maka tibalah saatnya kami mengantarkan mama ke tempat peristirahatannya yang terakhir, saat yang tak terlupakan olehku adalah saat aku beserta adikku turun ke liang lahat untuk menerima dan meletakkan jenazah mama di liang lahatnya, aku buka semua ikatan di kain kafannya, kubuka dan kuhadapkan wajah mama ke arah kiblat, menutupnya dengan papan-papan serta mengadzankan dan mengiqomatkannya, aku amat bahagia menjadi orang terakhir yang mengantarkan mama sampai ke liang lahatnya.
Setelah makam tertimbun tanah, maka prosesi pemakamanpun diakhiri dengan doa dan menaburkan bunga di atas pusara mama…… Selamat Jalan Mama semoga Alloh menerima segala amal perbuatan dan menghapuskan segala dosa yang mungkin ada dan menempatkan mama di tempat yang terbaik di sisi-NYA, Maafkan aku yang belum sempat membahagiakan mama, maafkan aku yang selalu menyusahkan mama, maafkan aku yang tak bisa mewujudkan banyak keinginan mama……
Robbighfirli….Waliwalidayya….Warkhamhuma kama Robbayani soghiro……..
Aku Sayang Mama….. Kasih Sayang Mama takkan tergantikan meskipun ditukar dengan nyawaku ini……
*Terima kasih banyak atas doa dan simpati dari rekan-rekan sekalian baik melalui sms, PM yang aku buat atau melalui jurnal ini, semoga doa-doa tersebut dapat melancarkan jalan Mama untuk kembali menghadap sang Khalik Alloh SWT.*    
| |