Om's posts with tag: renungan
ASTAGHFIRULLAHALADZIIIMMMM…… ASTAGHFIRULLAHALADZIIIMMMM…… ASTAGHFIRULLAHALADZIIIMMMM…… Ampuni aku Ya Allah… maafkan kekhilafanku… Syetan Terkutuk telah berhasil menyisipkan sedikit rasa “iri” di hatiku… Membuat hatiku kembali gemuruh… Membuat hatiku dipenuhi syak wasangka… Membuat hatiku tak ikhlas… Membuat hatiku mempertanyakan-MU ASTAGHFIRULLAHALADZIIIMMMM…… ASTAGHFIRULLAHALADZIIIMMMM…… ASTAGHFIRULLAHALADZIIIMMMM…… Maafkan aku Ya Allah… Ampuni aku Ya Allah… Lapangkan hatiku… Ikhlaskan hatiku... ---Juli 2008--- a long and winding road to reach our dreaming
Beberapa hari ini suasana hatiku dipenuhi dengan perasaan gundah gulana, gelisah, tak tenang dan segala perasaan tak enak lainnya. Seringkali aku menyalahkan keadaan, kemampuan dan keadilan yang turut berperan dalam ketidaknyamanan suasana hati ini. Saat keadaan hati makin tak menentu dan tak tahu kemana harus mengadu, tiba-tiba tanpa disadari aku sudah berada di tempat wudhu... membasuh wajah dengan air ketaqwaan yang membuat hati tiba-tiba nyeessss…, lanjut sholat sunnah 2 rakaat, selesai sholat mataku tertumpu pada sebuah Mushaf yang ada di dekat tempat sujud… ragu sejenak hingga akhirnya tanpa bisa dicegah tangan inipun meraihnya. Membuka begitu saja secara random entah mengapa yang terbuka adalah Surah Ar-Rahman, membaca ayat demi ayat membuat hati ini serasa tertampar sangat keras, malu hati ini karena ternyata selama ini aku hanya bisa mengeluh, mengeluh dan mengeluh, tak pernah mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan… Padahal Allah telah melimpahkan jutaan kebahagiaan, milyaran kesenangan, trilyunan kegembiraan, tapi semua itu luput dari pandangan mata, yang terlihat hanyalah keping-keping penderitaan tak berarti, yang terlihat hanya kebahagiaan orang lain, yang terlihat adalah rumput tetangga yang lebih hijau dari rumput sendiri., duh gusti… semoga penyakit “SMS” tidak menghinggapiku… Maafkan aku Ya Allah, maafkan atas kekhilafan hamba-MU ini, kekhilafan yang seringkali terulang karena ternyata diriku ini masih kurang bersyukur atas segala nikmat dan karunia-MU… Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani
Semalam pulang dari kantor ba’da maghrib, sunter-cakung mendung disertai rintik hujan sesekali… sampai di bekasi jalanan basah dan banyak genangan di beberapa tempat menandakan habis turun hujan yang cukup lebat hingga menyebabkan kemacetan yang lumayan, untunglah pake motor jadi masih bisa selap-selip di sana-sini. Pas sampai di daerah Kaliabang deket perumahan Pesona Anggrek, ada kemacetan yang nggak biasa yang ternyata disebabkan banjir setinggi lutut orang dewasa, mau nggak mau akupun memilih memutar untuk menggunakan jalur alternatif lewat Pondok Ungu yang selama ini nggak pernah aku lewati karena harus memutar rada jauh. Ketika sudah setengah perjalanan di jalur alternatif itu, tiba-tiba si Grandy jalannya nge-geol-geol karena terkena ranjau paku… duh mana udah malam hampir jam 20.00, untungnya nggak jauh dari situ ada tukang tambal ban jadi aku nggak harus terlalu lama mendorong si Grandy, awalnya ada perasaan kesal karena harusnya sudah sampai rumah, udah bisa makan malam…eh…ini malah masih ngantri di tukang tambal. Sempet su’udzon juga sama si tukang tambal karena yang kena paku bukan aku saja, tapi lama-kelamaan sambil merenung… aku malah mendapat kesimpulan baru yang amat menenangkan hati, yaitu mungkin inilah cara Allah dalam membagi rezeki pada hamba-hamba-NYA.. aku yang nggak pernah lewat jalan situ tiba-tiba terpaksa harus melaluinya dan ternyata itu adalah jalan bagi si tukang tambal untuk memperoleh rizkinya... terlepas dari siapa yang menebar paku-paku itu di jalanan, yang penting aku nggak boleh su’udzon lagi. Terima kasih Ya Allah… aku dapat satu pelajaran lagi tadi malam. foto : benda yang semalam merobek ban, terbuat dari rangka payung yang digunting biar runcing
Seringkali kita terjebak pada keadaan seperti yang ditanyakan di atas…inginnya selalu beramal yang besar-besar, katanya malu ah kalo beramal sedikit atau kecil, makanya alih-alih beramal malahan nggak beramal sama sekali karena kelamaan nungguin rezeki yang besar biar bisa beramal yang besar. Padahal sepertinya (ini menurutku lho, silahkan didiskusikan) justru amalan-amalan yang kecil-lah yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak…kok bisa…???... iya karena biasanya kalau kita habis melakukan amalan yang kecil maka kita akan melupakannya, padahal Allah nggak akan pernah melupakan amalan kita tersebut. Contohnya, apabila kita menyingkirkan duri/paku di jalan yang kita lewati tentunya dengan niat agar orang yang melintasi jalan tersebut setelah kita akan selamat tidak terkena duri/paku tersebut, maka biasanya kita akan segera melupakan amalan kita tersebut, padahal Insya Allah kita akan terus mendapatkan pahala yang dihitung dari setiap mahluk Allah yang melintasi jalan tersebut dan selamat dari duri/paku itu, Subhanallah…bayangkan kalo yang lewat jalan itu sehari ada 100 orang lalu berapa yang lewat dalam waktu 1 bulan dan terus hingga 1 tahun…???... Insya Allah pahalanya akan terus mengalir….. Tapi coba kalo kita melakukan suatu amalan yang besar misalnya kita menyumbangkan ratusan helai sajadah untuk masjid, memang pahalanya akan sangat besar, tapi bisa jadi kita akan sering mengingatnya dan bisa jadi pula setiap kali kita mengingatnya maka pahala dari amalan kita itu akan tergerus dan lama-kelamaan akan habis… apalagi kalo kebetulan ada yang nanya, “eh itu sajadah ente yang beli buat masjid yah” terus dengan entengnya kita jawab, “iya dong…elo mana…???” Astaghfirullah….habislah pahala itu terhapus oleh rasa ujub dan riya yang ada dalam hati kita. Memang yang ideal adalah kita beramal yang besar tapi disertai dengan keikhlasan yang besar pula, makanya ada yang bilang kalau kita mau amal ke masjid…berikanlah pada masjid yang jauh dari lingkungan kita, yang nggak kita lewatin setiap hari agar kita nggak ingat lagi sama amalan yang sudah kita lakukan. Tapi kalau belum bisa beramal yang besar janganlah berkecil hati, beramal yang kecil tapi rutin dan ikhlas itulah justru yang lebih di sukai Rasulullah SAW, nggak punya duit untuk beramal…???... toh satu sunggingan senyum ikhlasmu pada sesama saudara sudah cukup untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Tapi jangan kebanyakan senyum yah, apalagi kalo lagi sendirian...J J J…. *Sebuah kontemplasi di akhir Ramadhan 1428 H*
Tahun lalu benar-benar jadi tahun penuh kesedihan buat keluarga besar kami, bagaimana tidak karena dalam kurun waktu hanya 6 (enam) bulan saja sudah tiga orang dari keluarga kami yang dipanggil Alloh, dan yang dipanggil adalah yang benar-benar dekat kekerabatannya dengan kami.
Yang pertama dipanggil adalah masih termasuk nenekku karena dia adalah istri dari adik nenekku, berpulang 17 February 2006 sore, padahal dari pagi hingga siangnya masih sempat ikut mbantuin ponakannya bikin kue untuk ulang tahun, eh sorenya udah nggak ada….
Yang kedua dan ini yang paling menyedihkan kami, tak lain dan tak bukan adalah mama kami sendiri yang berpulang ke Rahmatulloh, sesuatu yang sama sekali nggak pernah terlintas dalam hati bahwa mama akan meninggalkan kami secepat ini, tak pernah terduga dan tak pernah terpikirkan……I Luv u Mom……
Dan yang terakhir kabar duka itu kembali harus kami terima, Jum’at 1 September 2006 suami dari salah seorang adik mamaku beda nenek juga telah berpulang, itupun tanpa diduga karena nggak sakit sama sekali dan sedang sehat-sehatnya. Ajal jika memang sudah tiba waktunya tak akan bisa maju atau mundur meski sedetikpun.
Innalillahi Wainnailaihi Rojiun…….. kepada Allah-lah tempat kita kembali….
Saat ku merasa sepi di tengah keramaian…….
Saat ku merasa sepi di tengah deru mesin……
Saat ku merasa sepi di ketinggian 31.300 kaki…..
Hari terakhir di usia 33 kujalani dengan kesedihan yang mendalam, betapa aku merasa telah lewat lagi masa satu tahun yang kujalani dengan penuh kesia-siaan, tak ada amal ibadah yang dapat kubanggakan semasa itu, tak ada prestasi yang terukir semasa itu, bahkan ku merasa semuanya justru meluncur deras turun dengan drastisnya.
Saat ku merasa betapa kecilnya diri ini…..
Saat ku merasa tak ada artinya…….
Saat ku merasa begitu dekatnya dengan kematian…….
Ku jelang hari pertama di usia 34 dengan kecamuk perasaan, masihkah akan kutemui hari ini di tahun depan nanti, masihkah ada kesempatan buatku untuk beribadah, masihkah ada kesempatan buatku untuk bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku……
Ya Allah…….
Jadikan sisa usiaku ini menjadi keberkahan, ampunkan segala kesalahan yang telah bertumpuk menjadi karat di sepanjang usia yang telah ku jalani dan jadikanlah aku sebagai hamba-MU yang pandai bersyukur…….
*kontemplasi di ketinggian 31.300 kaki dpl, dalam perut pesawat Indonesia Airasia, QZ-7313, PK-AWT antara Balikpapan dan Jakarta……*
foto : Milo Panas temen kontemplasiku…….
|  | Ikutilah Rambu-rambu ini Insya Alloh akan tiba di tempat terindah yang Keindahannya tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas dalam hati…… |
|  | Gambar 1. : Ukuran Bumi dibandingkan dengan beberapa planet lainnya, seperti Venus, Mars, Merkurius dan Pluto *eehhmmm…Bumi paling besar nih*
Gambar 2 : Kini Bumi dibandingkan dengan Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus *lumayanlah Bumi-nya masih kelihatan*
Gambar 3 : Bumi mana yah????....ternyata Bumi hanya sebesar titik bila dibandingkan dengan Matahari……*lalu kita sebesar apa ?????..........*
Gambar 4 : Ternyata ada lagi yang jauh lebih besar dari Matahari kita...lihat saja Matahari hanya sebesar bola kecil...... *semakin kecillah kita ini...*
Gambar 5 : Masya Allah....ada lagi yang lebih besar....Matahari kita hanya sebesar titik dibandingkan bintang Antares.....padahal Antarespun hanya sebesar titik bila dibandingkan bintang-bintang Raksasa lainnya
Lalu sebesar apakah kita???????........
Pertanyaannya : Masihkah kita dengan bangganya bersikap SOMBONG…???????......
Sumber : email temans……
|
 Ya Alloh Ya Robby Ya Rohman Ya Rohim, lindungilah aku dalam perjalananku baik pergi maupun pulang, jauhkanlah aku dari segala marabahaya, jauhkanlah aku dari kecelakaan baik karena kecerobohanku sendiri maupun kecerobohan orang lain.
Ya Alloh Ya Robby Ya Rohman Ya Rohim, lindungilah anak-anakku lindungilah istriku, baik di rumah, di sekolah, di pengajian, di jalan, atau di manapun mereka berada.
Jauhkanlah kami dari gangguan mahluk-mahluk jahat, jauhkanlah kami dari gangguan binatang-binatang jahat, jauhkanlah kami dari gangguan orang-orang jahat, jauhkanlah kami dari gangguan penyakit-penyakit dan virus-virus jahat.
Lindungilah kami Ya Alloh, Bukakanlah pintu-pintu Rizki dan kemudahan buat kami, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur…….
Bismillahittawaqaltu alalloh…La haula wala quwata ilabillahil aliyuladzim…….
Ini do’a yang selalu kubaca saat aku menutup pintu rumahku untuk kemudian melangkahkan kaki menuju ke tempat tugas……. 
 Hidup ini singkat……
Hidup ini cuma sekali…..
Hidup ini begitu indah….
Hidup ini penuh warna…..
Lalu kenapa hidup disia-siakan…..
Lalu kenapa hidup dibuat tidak bahagia….
Lalu kenapa hidup dibikin sulit….
Lalu kenapa hidup dibuat menyesakkan….
Bahagia ada dalam hati……
Bahagia datang bila hati penuh syukur…..
Bahagia datang bila saling menghargai….
Bahagia ada dalam kedamaian…… 
 Entah kenapa tadi pagi tiba-tiba hal ini terlintas dalam pikiranku bahwa kita seharusnya mengawali hari dengan senyum, mungkin ini gara-gara tadi waktu berangkat kantor di jalan ngeliat dua kejadian yang hampir mirip yaitu dua orang pengendara motor dan mobil yang saling ngotot-ngototan setelah kendaraan mereka saling bersenggolan, malah di kejadian yang pertama sudah saling pukul-pukulan…..
Mungkin mereka mengawali hari sudah dengan tingkat stress yang tinggi, segala macam takut berkecamuk dalam pikiran saat bangun tidur, takut macet, takut ketinggalan bus/kereta, takut terlambat sampai tempat kerja, takut nggak kebagian penumpang dan takut-takut yang lainnya mungkin juga ditambah dengan akumulasi masalah-masalah kemarin yang belum terselesaikan sampai hari ini. Hingga aura yang timbul dari diri mereka adalah aura yang negative, terburu-buru, emosi sudah pada level tinggi dan lain-lain yang hanya butuh sedikit pemicu untuk membuatnya meledak.
Padahal kalau saja mereka mau mencoba sedikit saja untuk tersenyum di pagi hari saat bangun dari tidur, mungkin kejadian-kejadian seperti di atas bisa dikurangi akibatnya, terlepas dari adanya Taqdir, mungkin kita bisa menghindarinya dengan lebih sabar dan berhati-hati dalam berlalu lintas, kalaupun terjadi juga mungkin kita bisa menyelesaikannya dengan cara yang lebih baik tidak harus dengan pukul-pukulan….betul nggak…………….
Jadi….mari kita awali hari kita dengan Senyum, seberat apapun masalah yang kita hadapi. Ingat bahwa Senyum itu juga termasuk Shodaqoh yang bisa kita berikan pada orang lain, kalau senyum yang free of charge aja kita enggan memberikannya apalagi Shodaqoh yang lain????.................     

Saat Kelahiran anakku yang kedua, aku diperkenankan masuk ke Ruang Bersalin untuk mendampingi Bunda yg akan segera melahirkan….detik demi detik kulalui penuh dengan ketegangan, setiap erang kesakitan yg terucap dari mulut wanita yg telah sekian lama setia mendampingiku ini selalu kubalas dengan eratan genggaman tanganku disertai ucapan kalimat Thoyibah yg selalu kubisikkan di telinganya……
Setelah sekian lama berjuang, akhirnya lahirlah anakku yg kedua…laki-laki…yah seorang laki-laki, kuperhatikan sosoknya yg kecil lemah tak berdaya tak bisa apa-apa tanpa bantuan orang lain……..Dia belum bisa berdiri, Dia belum bisa berlari, Dia belum bisa berkata-kata, Matanya… walaupun telah sempurna tapi belum bisa melihat….singkatnya Dia belum bisa apa-apa, hanya bisa menangis dan menangis……..
Berkaca pada keadaan anakku, aku merenungkan keadaan diriku pada saatku dilahirkan ke dunia ini pastilah keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaan anakku sekarang. Saat itu aku belum bisa berdiri apalagi berlari, aku belum bisa bicara apalagi berteriak, Aku belum bisa melihat apalagi berkacamata….yah aku tak bisa apa-apa, mungkin jika aku dilahirkan bukan oleh ibuku mungkin aku sudah dibuang di got atau tempat sampah tanpa aku sempat berteriak minta tolong….yah aku sangat lemah dan tak berdaya dan sangat tidak bisa apa-apa….………
Kini aku sudah Dewasa, aku bisa berdiri, berjalan bahkan berlari, aku bisa berbicara, mataku bisa melihat dan akupun bisa bergaya dengan kacamataku, kupingku bisa mendengar, tanganku berfungsi dengan baik dan aku bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain lagi.
Tapi siapa yang telah membuatku seperti ini?????.........dari yang tidak berdaya menjadi yang bisa berbuat apapun juga, dari Bayi menjadi Seorang Dewasa seperti sekarang????....sungguh tak mungkin aku menjadi besar dengan sendirinya, aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuaku yang tengah mengemban amanah dari-NYA, yah….hanya dia ALLOH SWT yang telah mentaqdirkan aku menjadi seperti sekarang…..
Merenungkan ini semua, Pantaskah atau Berhak-kah kita untuk Sombong….. 
| |